Langsung ke konten utama

Postingan

Dibalik Jendela, Nela

Di Balik Jendela, Nela Oleh : Sema Karunia
Menunggu membuatku mengidap bipolar[1]. Detik yang lalu, aku terbang melayang karena kebahagiaan. Detik selanjutnya, aku merasa jatuh ketempat paling dalam dan orang sering menyebutnya kesedihan. Virus apa yang sudah kamu berikan kepadaku? Sehingga, berulang kali aku menjadi pecandu teknologi. Berjalan mondar-mandir seperti anjing jaga, lalu melihat layar kaca kecil yang sebesar telapak tangan hanya untuk melihat balasan singkatmu. Benar-benar virus yang menyebalkan. *** 13 Juli 2017, daun pertama yang mendarat mulus ditelapak tangan Jogja. Dua tahun aku tak berkunjung ketempat ini dan meninggalkan kenangan tanpa berpamit. Mungkin, aku yang salah atau kamu yang salah? entahlah. Aku hanya sebagai pecinta kelas teri,[2]namun  wanita selalu saja mengharapkan lebih. Ya, kusadari karena aku memang magnet. Aku terlalu keras seperti karang didasar ombak. Aku meninggalkannya di tepi Kalimati dan merobek cerita terakhir dalam buku. Lalu, melarungnya bersam…
Postingan terbaru

Kuliah atau Organisasi

“Nak, kuliah seng bener. Ojo kecewake bapak lan ibumu ning ndeso.” Itu merupakan kata-kata atau harapan semua orang tua terhadap anaknya. Agar kuliah dengan benar dan tidak mengecewakan orang tuanya, yang banting tulang demi biaya kuliah serta hidup anaknya di perantauan. Orang tua pun, menginginkan anaknya mendapatkan IP yang bagus dan tentunya lulus tepat waktu, mengapa? Ya, tentunya kalian sudah paham tanpa aku jelaskan.
Tapi, masalah dan merupakan problem terbesar saat ini adalah kuliah tidak menjamin langsung mendapatkan pekerjaan. Lalu? Untuk apa kuliah? Membuang waktu dan tenaga, bukan? Itu merupakan pemikiran yang sempit. Kuliah itu penting, karena dapat membuka wawasan pengetahuan lebih lebar. Loh, bukannya membaca buku juga bisa? Berbeda, kuliah mengajarkan lebih banyak dari sebuah buku. Tapi, itu hanya berlaku bagi mahasiswa/i yang memang berniat kuliah bukan sekedar menyandang gelar untuk bergaya.
Eits, bukan ini yang akan kita bahas. Melainkan bagaimana kita kuliah tapi,…

Omong Kosong Dalam Tong Kosong

Ketika berbicara mengenai 'merdeka' banyak sekali yang perlu dipertanyakan. Merdeka yang seperti apa? Yang bagaimana? Jalan seperti apa? Untuk apa? Apa? Apa? Lalu apa?
Membela rakyat? Membela yang bagaimana? Sebagai jalan penengah? Tapi, itu omong kosong bagiku. Ketika mereka dengan bangga masuk didalam suatu organisasi dan mereka berkata "aku untuk rakyat" namun, ketika mereka dapat memenuhi ambisinya dan berada dipuncak, apalagi dipercaya untuk memegang kendali dalam suatu kehidupan yang lebih besar. Kata-kata yang dulu diucapkan hanya sebagai angin lalu. Mengapa? Ya karena mereka terlalu nyaman ditempat tidur. Hidup itu uang! Seperti kata-kata yang sering kita dengar "time is money' ingin mengelak? Bodoh! Saat ini uang adalah segalanya jadi, orang yang berkata "saya untuk rakyat bukan karena uang" hanya omong kosong! 
Apalagi, ditambah banyaknya para pejabat atau para penggerak layar kotak modern membuatkan acara yang membahas mengenai kehidupa…